SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com – Bertempat di Auditorium Kampus Regina Pacis, pada hari Sabtu, 14 Desember 2024, Pastoral Kampus Regina Pacis menyelenggarakan rekoleksi Adven yang penuh makna sebagai persiapan menyambut kedatangan Kristus pada Hari Natal nanti.

Rekoleksi Adven tahun 2024 ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah ibadat dan renungan Adven yang berlangsung pukul 07.30-09.00 WIB dengan tema Spes Non Confundit atau “Pengharapan yang Tidak Mengecewakan”. Ibadat dipimpin oleh Sr. Maria Theofila, OSU beserta Tim Pastoral Kampus Regina Pacis. Renungan Adven yang mengambil tema: Spes Non Confundit dibawakan oleh Bapak Elias Anwar. Renungan Adven ini mengajak peserta rekoleksi untuk menjadi peziarah harapan seperti yang dilakukan oleh pemungut cukai dalam Injjl Lukas Bab 3.

Dalam sesi ini, peserta juga diajak untuk mendalami pengharapan yang didasarkan pada iman kepada Tuhan, meskipun sering kali dihadapkan pada situasi sulit. Melalui ibadat dan renungan Adven, peserta juga diberi kesempatan untuk sharing bersama dalam kelompok kecil dan berbagi pengalaman.

Suster Vero dalam kelompok kecilnya membuka sharing bahwa dalam pengharapan, kita harus terbuka pada realitas hidup dan belajar menerima situasi di mana pengharapan tampaknya tidak terwujud namun tetap kuat untuk tekun. “Pengalaman-pengalaman seperti perjuangan Pak Edy menghadapi sakit demam berdarah anaknya, Ibu Wiwik yang harus pindah rumah demi menemani mertuanya, dan pergumulan saya sendiri dengan sakit, mestinya menjadikan pengharapan yang menguatkan iman dan harapan kepada Tuhan”, demikian dikatakan Suster Vero dalam sharingnya.

Ada juga sharing dari kelompok Ibu Indratin bersama Ibu Lestari, membagikan kekaguman mereka terhadap tokoh pemungut cukai dalam Injil yang berani bertobat dan melakukan transformasi diri. “Pemungut cukai berani meninggalkan kenyamanan hidupnya dan mau mengikuti Yesus adalah sebuah keberanian”, kata Ibu In.

Melalui sharing bersama ini, Pak Anwar menegaskan bahwa pengharapan tidak selalu berarti bebas dari kesulitan, tetapi kita mau terbuka terhadap realitas dan berusaha menemukan kekuatan di dalamnya. Dalam renungannya, Pak Anwar mengajak semua peserta untuk terus berharap dan menjadi peziarah pengharapan, terutama menjelang Tahun Yubileum 2025. “Pengharapan adalah teman setia kita untuk sampai kepada Kristus,” tegas Pak Anwar. Sebagai peneguhan, Suster Maria Theofilla yang memimpin doa-doa Adven menyentuh hati, menguatkan iman dan komitmen para peserta untuk terus berjalan dalam terang Kristus.

Sesi keduadilanjutkan pukul 09.00-11.30 WIB dengan tema “Hiduplah dan Bebaslah: Mengenakan Pikiran dan Hati Kristus”. Sesi ini dipandu oleh Rm. Agustinus Setyadarmono, SJ, atau sering disapa Romo Nano. Tema ini mau mengupas dan mendalami buku yang berjudul: Hiduplah dan Bebaslah. Sesi ini berkesinambungan mendalami setiap bab dari buku tersebut. Dalam pertemuan bersama Romo Nano, yang didalami adalah bagian pengantar dari buku tersebut.

Dalam sesi ini, Romo Nano membawa peserta dengan gayanya yang lucu namun berbobot pada refleksi mendalam tentang kebebasan sejati dalam hidup. Romo Nano menekankan bahwa kebebasan sejati bukan sekadar terbebas dari beban, tetapi juga keberanian mau menggunakan perasaan dan pikiran dari Kristus, yang seringkali berbeda dengan perasaan dan pikiran kita bahkan orang lain.Peserta diajak untuk mengenakan pikiran dan hati Kristus dalam setiap aspek hidup mereka, terutama dalam peran mereka sebagai pendidik dan pelayan sesama. Kebebasan ini menjadi dasar untuk terus membangun kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan.

Acara kemudian ditutup oleh Suster Vero, yang memberikan pesan mendalam tentang pentingnya ketekunan dalam menerima diri sendiri dan belajar mendalami buku Sepikiran dengan Kristus. Suster Vero mengajak semua peserta rekoleksi untuk terus membangun pengharapan yang kokoh dan melibatkan Kristus dalam setiap langkah hidup.

Melalui dua tema besar, Spes Non Confundit dan Hiduplah dan Bebaslah, rekoleksi ini menjadi pengingat bahwa pengharapan adalah dasar kehidupan yang tidak akan pernah mengecewakan. Bersama dengan kebebasan sejati yang diperoleh melalui iman, peserta didorong untuk menjadikan hidup mereka sebagai kesaksian nyata tentang kasih dan rahmat Tuhan.Semoga semangat pengharapan dan kebebasan sejati yang dipupuk melalui rekoleksi ini dapat terus hidup di hati semua peserta, membawa mereka lebih dekat kepada Kristus di masa Adven dan seterusnya.

El. Anwar (Guru Pendidikan Agama Katolik SMA Regina Pacis Surakarta)

Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta: https://smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan https://smareginapacis-solo.sch.id/

SURAKARTA, SERVIAMNEWS.com – Selasa, 6 Agustus 2024 merupakan hari yang saya tunggu-tunggu sejak lama, rasanya saya ingin segera memulai petualangan baru bersama teman-teman satu kelas. Maka dari itu saya  bergegas ke Auditorium dengan semangat yang membara. Disana saya bertemu banyak teman baru dari kelas lain, kami saling bercerita tentang apa yang ingin kita lakukan setibanya di tempat perkemahan.

Tak lama menunggu, akhirnya kami pun berangkat tepat pukul 08.00 dari sekolah menuju Bumi Perkemahan Rama Sinta Prambanan. Alangkah bahagianya saya ketika berada di dalam bus, saya sangat menikmati pemandangan dari luar jendela sambil terkadang mengobrol dengan teman sebelah saya. Sesekali waktu saya berandai-andai bagaimana jadinya suasana pagi hari di sekitar candi Prambanan, pasti udaranya sejuk dan menenangkan.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya kami semua sampai di tempat perkemahan. Saya dan teman satu sangga segera mengambil barang di bagasi, lalu meletakkannya di area yang sudah ditentukan untuk membangun tenda kami. Setelah itu kami berbaris untuk mengikuti upacara pembukaan. Saat itu juga, saya merasa takjub karena bisa melihat candi Prambanan dalam jarak yang lumayan dekat, saya jadi tidak sabar ingin berkeliling di sekitar area candi nanti sore.

 Upacara pun segera disudahi agar kami bisa mulai membangun tenda masing-masing. Walaupun terik matahari menyengat dan udara di sekitar terasa semakin panas, saya bersama teman satu sangga tetap bekerjasama mendirikan tenda. Hal tersebut tidak mengugurkan semangat kami, kami malah menjadi semakin terpacu untuk menyelesaikan secepatnya. Benar saja, diantara sangga putri dari kelas lainnya, sangga kami menjadi yang pertama mendirikan tenda. Kami tidak mau menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan, sehingga ada sisa waktu kami gunakan untuk memasukkan barang ke dalam tenda dan berkemas sebelum menuju ke candi Prambanan.      

Singkat cerita, kami sudah berada di candi Prambanan. Kami juga diperbolehkan untuk masuk ke dalam candi, maka dari itu saya memutuskan berkeliling sebentar bersama teman satu kelas. Saya merasa kagum ketika melihat relief-relief yang terukir pada dinding candi, begitu banyak lukisan berupa manusia atau sebuah benda yang terpahat disana. Candinya pun terlihat kokoh sehingga terasa sangat megah.

Setelah puas berputar-putar dari satu candi ke candi lainnya, kami semua kembali ke tempat perkemahan guna mempersiapkan makan malam. Pada saat sangga saya mulai memasak, ternyata bahan yang kami bawa kebanyakan sehingga sehabis memasak langsung kami berikan sebagian ke pendopo panitia. Sejujurnya rasa masakan yang kami buat lumayan enak untuk ukuran koki amatir seperti kami ini.

Malamnya, kami semua berjalan bersama-sama menuju tempat dimana kami akan menonton Ramayana. Perjalanannya cukup jauh dan agak sedikit melelahkan, tapi saya tidak begitu mempedulikannya, bagi saya ini menjadi hal yang terasa menyenangkan karena bisa menyusuri jalanan sambil bertukar cerita dengan teman-teman lainnya. Sesampainya disana, saya merasa kagum bisa melihat para tokoh Pagelaran Ramayana yang menari dengan gemulai sembari diiringi alunan musik gamelan yang sangat indah. Menurut saya kedua hal tersebut merupakan perpaduan yang sangat serasi dan tidak dapat dipisahkan, saya pun merasa terbawa suasana ketika melihat adegan demi adegan yang berlangsung.

Hari kedua, 7 Agustus 2024 pagi-pagi sekali kami dibangunkan untuk melakukan meditasi. Pada saat itu suasana sangat hening dan sunyi, yang terdengar hanya suara kicauan burung serta sesekali merasakan sejuknya angin di pagi hari. Kemudian pada siang harinya kami melakukan kegiatan outbound di sekitar candi Prambanan. Saya bersama teman satu kelas berjalan dari satu pos ke pos lain untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan.

Tantangan di pos terakhir merupakan salah satu yang berkesan bagi saya, dimana kami diharuskan menutup mata menggunakan handuk (kecuali pemain paling belakang) sambil mencari bola yang warnanya sudah ditentukan oleh guru. Kita tidak boleh membuka mata ataupun berkomunikasi, jadi hanya mengandalkan kode tepukan dari teman paling belakang Dari permainan tersebut saya belajar bahwa dalam sebuah kelompok antar anggotanya harus saling percaya agar bisa meraih tujuan bersama.

Setelah lelah bermain selama sehari penuh, malam harinya kami mengikuti upacara api unggun yang dilanjutkan pentas seni tiap kelas. Kelas saya mendapat urutan tampil yang pertama, walaupun awalnya kami sempat ragu apakah akan berjalan lancar, tapi kami tetap melakukannya. Untung saja pada saat pementasan kami tidak melakukan begitu banyak kesalahan, malah mendapat banyak sekali apresiasi positif dari teman-teman lainnya.

Pementasan kelas saya diakhiri dengan berlari bersama-sama mengilingi api unggun. Setelah selesai, kami tentunya merasa sangat lega karena bisa menampilkan yang terbaik menurut kami. Saya berharap semoga apa yang kami tampilkan bisa berkesan positif bagi teman-teman yang menontonnya.

Hari ketiga merupakan hari terakhir dalam kemah pengakraban. Masih sama seperti hari sebelumnya, pagi itu diawali senam dan doa bersama. Setelahnya kami dipersilahkan untuk membongkar tenda masing-masing. Saya bersama teman satu sangga langsung membagi tugas agar pekerjaan kami cepat selesai. Tentunya hal ini tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja karena tendanya sangat besar, jadi tidak memungkinkan apabila hanya dilipat sendirian. Sekalipun bisa, pasti juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Maka dari itu, kami bekerjasama baik dalam pembongkaran maupun melipat tenda. Tak lama kemudian, kami pun mengikuti upacara penutupan sebelum akhirnya pulang menuju ke sekolah. Saya merasa sangat senang sekaligus bangga karena tiga hari dapat saya lalui dengan baik tanpa adanya satupun masalah. Hari itu pun saya harus berpisah dengan teman-teman, dan kembali ke rumah masing-masing.

Kesan positif yang saya dapatkan selama 3 hari mengikuti kemah pengakraban yaitu saya bisa menjadi lebih mengenal teman-teman satu kelas, belajar menerima karakter yang dimiliki setiap orang, bahwa kerjasama serta komunikasi merupakan kunci penting di dalam sebuah kelompok. Adanya pementasan yang dilakukan pada hari kedua juga dapat mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang beragam, maka sebaiknya kita menanamkan rasa toleransi. Saya juga merasa senang karena bisa diperkenalkan dengan candi Prambanan dan cerita Ramayana, yang juga termasuk dalam warisan budaya Indonesia.

Sesuai dengan tema kemah pengakraban kali ini yaitu “Satu Hati, Satu Tujuan”, kita semua diajak untuk saling bekerjasama walaupun memiliki latar belakang yang berbeda-beda, supaya dapat mencapai apa yang diinginkan. Dalam perwujudan tindakan ini tentunya juga tidak mudah, terkadang kita perlu mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Dengan sikap saling menghargai dan menerima satu sama lain, segala sesuatu yang dikerjakan pasti terasa lebih ringan dan cepat selesai.

Tindak lanjut kegiatan pengembangan diri sendiri dan sekolah adalah saya akan berusaha untuk lebih terlibat aktif lagi dalam kegiatan kelompok, jika ada sesuatu yang kurang berkenan sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu. Utamakan komunikasi daripada mementingkan kepentingan/ego sendiri. Selain itu, saya juga akan berusaha untuk menerima setiap karakter yang dimiliki oleh teman-teman, serta saling bekerjasama/kompak ketika menghadapi suatu masalah.

Andrea Annetta Kusuma Ayu Aurelia/ X-A

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Perwakilan dari Wenzao Ursuline University of Languages, Taiwan berkunjung ke SMA Regina Pacis Surakarta, pada Senin, 12 Agustus 2024.  Kunjungan ini menjadi momen istimewa, mengingat kedua institusi merupakan bagian dari komunitas pendidikan Ursulin yang sama. Acara yang berlangsung di Auditorium lantai 2 Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta ini dihadiri oleh 129 siswa-siswi kelas X, XI, dan XII yang berminat untuk melanjutkan study ke Wenzao Ursuline University.

Dalam kunjungan ini pihak Wenzao berkesempatan untuk memperkenalkan program-program unggulan dan kehidupan perkuliahan yang disampaikan oleh Dr. IJane Weng, Arlyn Hielman seorang mahasiswi tahun ketiga, dan ditemani Suster Cecilia Tsaishu Wang, OSU.

Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah SMA Regina Pacis Surakarta Ibu MM. Wahyu Utami, M.Pd beliau mengapresiasi kunjungan dari Wenzao Ursuline University yang diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada para siswa mengenai peluang pendidikan tinggi di luar negeri. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh tim Wenzao Ursuline University.

Wenzao Ursuline University terletak di Kota Kaohsiung 高雄, Taiwan, sebuah kota yang dikenal dengan kehidupan perkotaan yang dinamis dan keindahan alamnya. Universitas ini berdiri kokoh sebagai salah satu institusi pendidikan ternama di Taiwan, terutama dalam bidang bahasa dan kebudayaan.  Dr. IJane Weng memperkenalkan berbagai program studi unggulan yang ditawarkan, fasilitas kampus yang modern, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan diri mahasiswa. Selain itu, beliau juga memaparkan informasi mengenai biaya perkuliahan dan berbagai opsi beasiswa yang dapat diakses oleh para siswa, termasuk beasiswa penuh dan parsial.

Sesi yang paling dinantikan adalah sharing pengalaman dari Arlyn Hielman, seorang mahasiswi tahun ketiga di Wenzao Ursuline University. Arlyn berbagi cerita mengenai kehidupan kampusnya, tantangan yang dihadapi, serta manfaat yang ia dapatkan dari berkuliah di Universitas tersebut. Pengalamannya memberikan gambaran nyata kepada para siswa mengenai kehidupan sebagai mahasiswa di luar negeri, serta bagaimana nilai-nilai Ursulin terus membimbingnya dalam meraih prestasi.

Antusiasme siswa semakin terasa saat sesi tanya jawab (Q&A) dimulai. Para siswa dengan penuh semangat mengajukan berbagai pertanyaan terkait kehidupan kampus di Wenzao Ursuline University. Tim dari Wenzao Ursuline University dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan, memberikan penjelasan yang mendetail dan inspiratif. Sesi ini tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga memotivasi mereka untuk mengejar peluang pendidikan di luar negeri.

Salah satu aspek yang sangat menarik bagi siswa SMA Regina Pacis Surakarta adalah peluang beasiswa yang ditawarkan oleh Wenzao Ursuline University. Universitas ini menyediakan berbagai jenis beasiswa, termasuk beasiswa penuh, beasiswa setengah, dan program magang berbayar. Beasiswa ini tersedia dengan syarat dan ketentuan tertentu, memberikan kesempatan bagi siswa yang berprestasi untuk melanjutkan studi mereka di Taiwan dengan dukungan finansial yang signifikan.

Bagi siswa-siswi yang tertarik untuk melanjutkan pendidikan mereka di Wenzao Ursuline University, mereka didorong untuk mengunjungi situs resmi universitas di https://cic.wzu.edu.cn/. Selain itu, siswa juga dapat berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah untuk mendapatkan bimbingan lebih lanjut. Kunjungan ini tidak hanya memberikan wawasan baru bagi para siswa mengenai peluang pendidikan di luar negeri, tetapi juga menginspirasi mereka untuk mengejar mimpi di ranah internasional. SMA Regina Pacis Surakarta berharap kerjasama ini akan terus berlanjut, membuka lebih banyak peluang bagi siswa untuk meraih prestasi di kancah global.

S. Dewi Fajar Utami (Guru SMA Regina Pacis Surakarta)

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Tim pastoral Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta mendapat kesempatan emas mengikuti pendampingan pemateri retret bertajuk “Siap Diutus Tuhan” yang diberikan oleh Romo Herman Joseph Suhardiyanto, SJ, pendamping rohani para frater inter Diosesan Malang St. Giovanni XXIII. Selain Romo Joseph, pendampingan juga diberikan oleh Ibu Bernadeta Wahyu Widhi Hapsary, S.Pd., M.Fil dari Komisi Kateketik Kevikepan Surakarta dan Bapak Ignatius Surya Prasetya Wijaya, BSc. ISE., MBA, Kepala Sekolah Evangelisasi Pribadi Keuskupan Agung Semarang. Pendampingan dilakukan selama tiga hari yaitu pada Rabu-Jumat, 17-19 Juli 2024.

Kegiatan ini bertujuan menyiapkan tim pastoral Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta agar semakin siap dalam memberikan materi retret untuk peserta didik. Kesiapan diri tidak hanya secara jasmani saja, tetapi juga kesiapan diri menerima Roh Kudus untuk hadir dalam menyiapkan materi, menyampaikan materi, dan mendampingi peserta didik dalam mengikuti rangkaian kegiatan retret ataupun rekoleksi. Pengolahan batin sangat penting untuk menyiapakan diri. Acara dimulai dengan sharing iman yang saling menguatkan satu sama lain. Dukungan satu tim menjadi kunci utama dalam suksesnya melaksanakan pembinaan rohani peserta didik.

Penuh suka cita dan kesadaran bahwa Allah sungguh baik dalam kehidupan kita semua anak-anakNya membuat Tim Pastoral Kampus Regina Pacis Surakarta semakin semangat mengikuti pendampingan. Menyadari karya Allah sungguh luar biasa lewat peserta didik yang dipercayakan kepada sekolah menjadi tanggung jawab yang harus diemban dengan baik. Pertumbuhan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan nilai berupa angka, tetapi juga karakter dan keimanan mereka yang harus dikembangakan agar tumbuh subur sehingga mampu membentengi diri mereka dari berbagai ancaman dan godaan dalam kehidupan. Tim Pastoral Kampus menjadi garda terdepan untuk memupuk iman mereka dengan berbagai kegiatan kerohanian yang diadakan di sekolah.

Tim Pastoral Kampus Regina Pacis mendapat banyak bekal, strategi, dan kemurahan hati melalui ketiga narasumber. Berbagai kendala dikupas bersama dan dicari solusinya dengan latihan discerment. Latihan mendengarkan suara hati dengan mengandalkan pertolongan Tuhan karena berkat Tuhan selalu menguatkan kita semua.

Sebagai Tim Pastoral Kampus, peserta juga diajak untuk menyeimbangkan roda hidup kristiani. Berporos pada Yesus yang menggerakan doa, keluarga, pelayanan, firman, pekerjaan, dan komunitas dengan seimbang akan membuat pelayanan kami berjalan dengan baik dan semakin berlimpah kasih Tuhan. Bapak Petrus Gian salah satu guru Pendidikan Agama Katolik di SMA Regina Pacis Surakarta menuturkan kesannya setelah mengikuti kegiatan Pelatihan Pendamping Retret ini. Ia semakin disadarkan bahwa retret untuk siswa-siswi di sekolah bukan hanya menjadi program tahunan sekolah melainkan menjadi suatu kebutuhan siswa untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup.

Memang dalam retret tidak langsung siswa-siswi langsung berubah 100% menjadi baik. Retret sebenarnya sebuah latihan rohani dimana siswa-siswi terus menerus diajak mengolah diri dan spiritualitasnya setiap saat agar hidup rohani mereka semakin bermutu dan semakin menyadari serta merasakan cinta Allah pada diri mereka masing-masing. Selain itu, Bapak Gian juga secara pribadi diingatkan untuk membawakan retret sesuai kebutuhan peserta didik yaitu dengan memberikan retret yang kontekstual sehingga  dapat dinikmati dan dihidupi oleh siswa-siswi dalam kehidupan nyata.

Berbeda dengan Ibu Margaretha yang merupakan guru Pendidikan Agama Katolik di SMP Regina Pacis Surakarta, dia disadarkan bahwa menerima rahmat berarti juga harus mengikuti jalan penderitaan Yesus seperti perumpamaan mina dalam Injil Lukas 19:12-27. Allah melalui Roh Kudus telah memberikan kita kepercayaan dan tugas yang besar selama kita hidup di dunia ini dan memiliki harapan bahwa kita memiliki keberanian untuk mengembangkannya dalam hidup sehari-hari. Tugas dan pelayanan yang dilakukan semua diarahkan untuk Tuhan, bukan untuk mendapatkan pujian, menyenangkan diri atau membanggakan diri sendiri.

Para peserta pendampingan retret semakin dikukuhkan untuk menjadi sepenuhnya Katolik dan sepenuhnya Indonesia. Orang Katolik harus menjunjung tinggi ke- Indonesiaannya, dengan cara menjunjung tinggi adat istiadat, menghargai dan bergaul dengan siapa saja tanpa memandang suku, etnis, profesi atau pekerjaan tertentu. Menjadi nasionalis berarti kita sebagai warga Indonesia seyogyanya mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia atau dengan kata lain kita memberikan dampak yang positif bagi lingkungan sosial dan alam sekitar.

Di penghujung pendampingan pemateri retret selam tiga hari ini, kami sebagai Tim Pastoral akhirnya mengerti urutan retret yaitu mulai dari pengenalan diri, pengalaman iman dan pendalaman iman pada sesama dan lingkungan melalui keputusan-keputusan berdasarkan discernment. Pengetahuan dan pengalaman ini tentunya membuat kami siap diutus untuk mendampingi kehidupan rohani siswa-siswi kami di tahun -tahun selanjutnya. Salam Serviam.

Cicilia Feniawati – Guru SMA Regina Pacis Surakarta

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Hal yang esensial di dalam kehidupan adalah menikmati hidup dan berbahagia. Kebahagiaan yang dihidupi berjalan seiring dengan semangat positif yang kian dinyalakan. Grup musik HIVI mengibaratkannya di lagu Merakit Perahu dalam kalimat “seperti merakit perahu layar ku bersiap untuk maju dengan hati yang gembira”. Senada dengan aspek kebahagiaan tersebut, pada tanggal 12-13 Juli 2024, Yayasan Winayabhakti Solo menyelenggarakan kegiatan Family Gathering yang diikuti oleh keluarga besar Kampus Ursulin Solo – Klaten. Guru dan karyawan mengajak suami atau istri serta anak dalam kegiatan yang total pesertanya mencapai 500 orang ini.

 Agenda Family Gathering yang dikoordinir oleh Aida Tour & Travel ini diawali dengan kunjungan ke Solo Safari. Di tempat yang dahulu bernama Taman Satwa Taru Jurug tersebut seluruh peserta Family Gathering berjalan kaki berkeliling di area kebun binatang dengan menyaksikan aneka satwa. Harimau, unta, buaya, kuda nil, dan zebra merupakan contoh satwa yang dapat ditonton dari jarak tidak terlalu jauh. Di dalam Solo Safari para peserta Family Gathering turut dapat menikmati pertunjukan edukasi satwa yang melibatkan berbagai hewan seperti burung kakak tua, burung hantu, orang utan, otter, dan gajah. Kegiatan di Solo Safari ditutup dengan makan siang di Resto Makunde yang terletak di tengah kawasan kebun binatang.

Malam hari seusai sorenya para peserta tiba di Hotel Griya Persada Bandungan, puncak acara Family Gathering digelar di Ramayana Ballroom. Dibuka dengan sambutan oleh Ketua II Yayasan Winayabhakti Solo, Suster Veronica Sri Andayani, OSU, kemeriahan berlanjut saat sesi pentas seni yang diisi oleh 16 penampilan anak-anak dari guru dan karyawan Kampus Ursulin Solo Klaten. Menyanyi, membaca puisi, tari tradisional, dan modern dance dipertunjukkan secara bergantian dengan penuh antusias.

Keesokan harinya, seluruh peserta Family Gathering berwisata di Taman Bunga Celosia Bandungan. Selain menikmati sejuknya udara dataran tinggi dan memandang aneka tanaman di taman, para peserta bersemangat dalam mencoba berbagai wahana permainan. Kora-kora, bianglala, ombang-ambing, ontang anting, dan rainbow slide hadir sebagai ragam permainan yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Siangnya para peserta Family Gathering menutup kegiatan dengan berwisata ke Cimory Dairy Land.

Kegembiraan terkait gayengnya kegiatan Family Gathering ini tercermin dari ekspresi yang tampak sepanjang dua hari acara dan testimoni yang muncul. Ibu Maria Imaculata Sindi Prastiwi (guru SMP Regina Pacis Solo) mengungkapkan bahwa kegiatan Family Gathering ini membuatnya semakin mengenal lebih banyak guru dan karyawan. Bapak Andreas Yovi Eka Listyawan (guru SMA Regina Pacis Solo) menambahkan bahwa Family Gathering ini sangat seru dan menarik. Baginya kegiatan ini memiliki makna dalam mempererat solidaritas keluarga besar Ursulin Solo Klaten.

Hal ini menjadi modal penting dalam kelompok sosial sehingga tercipta harmoni dalam keberagaman yang kian nyata. Pernyataan ini dikuatkan oleh Bapak Novian Dicky Pratama (satpam Kampus Ursulin Solo) yang menyampaikan bahwa kegiatan Family Gathering bermakna dalam menebalkan rasa persaudaraan agar semakin kuat terjalin. Sukacita dalam Family Gathering juga tampak dalam kesan dan makna yang dirasakan oleh peserta dari Ursulin Klaten. Ibu Puri Ratnasari (guru TK Maria Assumpta Klaten) menuturkan betapa kegiatan Family Gathering ini sangat seru dan menggembirakan. Kegiatan yang mempertemukan seluruh unit Kampus Ursulin Solo Klaten ini menambah rasa persaudaraan serta menyuntikkan semangat dalam menyambut tahun ajaran baru.

Ibu Yulita Nugraheni Tuti Sendari (guru SD Maria Assumpta Klaten) merasakan makna adanya Family Gathering ini menjadi semakin diteguhkan dalam berkarya di dunia pendidikan. Ibu Yunita Widyastuti (guru SMP Maria Assumpta Klaten) menyatakan bahwa Family Gathering ini memperkuat hubungan dalam keluarga dan memberikan kenangan indah jelang tahun ajaran baru. Family Gathering yang bertempat di tempat wisata edukatif menumbuhkan motivasi untuk semakin bertumbuh dalam berkarya.

Tidak hanya dari kalangan orang dewasa, keseruan Family Gathering turut dirasakan oleh anak-anak dari para guru. Billy Novendo Cristian Harjono (putra Ibu Anung Dwi Rahayu) menyampaikan bahwa kegiatan Family Gathering berlangsung dengan sangat meriah. Billy merasa senang karena dapat berwisata bersama keluarga. Angela Shila Putri Permata Sari (putri Ibu Sesilia Feniawati) mengungkapkan bahwa dari Family Gathering ini semakin mampu memaknai arti kekeluargaan dan saling menguatkan dalam semangat pelayanan. Ursula Sheli Putri Permata Sari (putri Ibu Sesilia Feniawati) menambahkan bahwa ia merasa senang dapat menjadi bagian dari keluarga besar Ursulin. Semangat kebersamaan ia jumpai dalam kegiatan wisata dan acara Gala Dinner.

Family Gathering menjadi momentum bagi keluarga besar Ursulin Solo Klaten untuk semakin mengenal dlam lingkup luas. Kebersamaan dalam dua hari tidak hanya dilihat sebatas berwisata bareng melainkan juga dimaknai sebagai kesempatan untuk semakin akrab, guyub, dan solid dalam tali persaudaraan. Dalam kaitannya menyongsong tahun ajaran baru, Family Gathering ibarat menjadi tambahan motivasi sekaligus inspirasi dalam berkarya dan melangkah ke depan dengan hati yang mantap.

Christianto Dedy Setyawan

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Dalam mendidik dan mendampingi siswa generasi Z penting bagi guru untuk memahami dan mengembangkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE). Sejatinya, KSE mencakup kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri, serta memahami emosi orang lain. Keterampilan ini sangat penting karena membantu guru dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan siswa.

Dengan memiliki KSE yang kuat, guru dapat lebih efektif dalam menjalankan peran sebagai fasilitator dalam Kurikulum Merdeka, dimana pembelajaran terpusat pada peserta didik (student center). Perubahan paradigma ini menuntut guru untuk terus mengembangkan kompetensi, terutama dalam hal KSE. Dengan KSE, guru dapat lebih efektif dalam membimbing siswa tidak hanya dalam aspek akademik tapi juga dalam pengembangan keterampilan sosial dan emosional.

Berkaitan dengan pengembangan kompetensi tersebut, sebanyak 85 guru SMP dan SMA Regina Pacis Surakarta mengikuti seminar bertajuk “Implementasi Kompetensi Sosial-Emosional dalam Pembelajaran dan Pendampingan Siswa” pada Senin, 15 Juli 2024 di Auditorium Kampus Regina Pacis Surakarta. Hadir sebagai narasumber yaitu Dosen Fakultas Psikologi sekaligus Rektor Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, Bapak Dr. Ferdinandus Hindiarto, S..Psi., M.Si dan Ibu Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S.Psi., M.Pd., Psikolog.

Pada sesi pertama, materi yang disampaikan adalah pengenalan kompetensi sosial emosional oleh Bapak Ferdinand. Beliau mengajak para peserta untuk menyadari realitas mengenai “Generation Gap“yaitu kesenjangan yang menciptakan jarak antara guru dan siswa. Beliau menekankan pentingnya komunikasi yang melingkar dan efektif untuk menjembatani kesenjangan ini. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan memenuhi kebutuhan generasi Z yang sering digambarkan sebagai kekurangan “Vitamin A” – yaitu Attention (perhatian), Acceptance (penerimaan), Affection (kasih sayang), Appreciation (penghargaan), dan Affirmation (pengakuan).

Memenuhi “Vitamin A” sangat penting karena membantu siswa merasa dihargai dan diakui, sehingga dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Perhatian dan penerimaan dari guru membuat siswa merasa didengar dan dimengerti, kasih sayang menciptakan ikatan emosional yang kuat, dan penghargaan serta pengakuan mendorong motivasi dan rasa percaya diri siswa. Dengan memenuhi kebutuhan ini, guru dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan siswa, mengurangi kesenjangan generasi, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan inklusif.

Pada sesi ini, Bapak Ferdinand juga menyinggung mengenai pokok-pokok pemikiran pendidikan dari Driyarkara. Mendidik adalah perbuatan fundamental yang bertujuan untuk mengubah, menemukan, dan membentuk hidup manusia yang berpangkal pada sikap fundamental cinta murni yaitu mengutamakan kepentingan yang dicintai. Driyarkara juga menekankan mengenai homanisasi yaitu manusia dapat “menyadari dirinya sendiri” yang berarti mengerti diri, mampu menempatkan diri, mengambil sikap, dan mampu menentukan dirinya sendiri.

Sesi pertama diakhiri dengan peneguhan pemutaran film yang menceritakan begitu hebatnya perjuangan seorang guru yang mengajar di kelas anak-anak bermasalah, hingga mampu mendidik dan mengubah anak-anak tersebut menjadi lebih disiplin dan mampu menemukan potensi diri. Di sesi kedua, dilanjutkan dengan materi strategi pengembangan kompetensi sosial emosional dalam pembelajaran dan pendampingan siswa oleh Ibu Ira.

Pada sesi kedua ini, peserta disegarkan melalui cerita pengalaman Ibu Ira dalam mendampingi siswa termasuk yang berkebutuhan khusus. Melalui pengalaman Ibu Ira, peserta mendapatkan gambaran mengenai permasalahan emosional siswa dan strategi untuk menghadapinya. Kegiatan dilanjutkan dengan adanya diskusi kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 guru. Peserta diajak untuk mendiskusikan mengenai permasalahan sosial emosional guru dalam pendampingan siswa, kendala apa saja yang dihadapi, dan  solusi untuk permasalahan tersebut. Hasil diskusi yang terbaik ditampilkan dalam role play dan ditutup dengan tiga guru yang berbagi pengalaman best practice dalam mendampingi siswa.

Dari seminar KSE ini, kita dikuatkan kembali untuk dapat menjadi guru yang otentik. Selaras dengan pandangan Erich Fromm yang menyatakan bahwa puncak dari kedamaian bukanlah terbebas dari suatu hal saja, melainkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri, hidup sesuai dengan nilai-nilai, dan potensi pribadi. Dengan menjadi otentik kita akan mendidik dan mendampingi anak-anak yang telah dipercayakan dengan sepenuh hati tanpa beban dan keterpaksaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan reflektif untuk mempersiapkan diri menjelang tahun ajaran baru: “Saya ingin dikenal sebagai guru yang seperti apa?”

S.Fajar Dewi Utami, SPsi – Guru BK SMA Regina Pacis Solo

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Pada 10 Juli 2024, Yayasan Winayabhakti Solo mengadakan kegiatan Outbound di Danuwo Waterpark Boyolali, Jawa Tengah. Seluruh staf tata usaha dan Kepala Sekolah dari berbagai sekolah di bawah Yayasan, seperti SMA Regina Pacis Surakarta, SMP Regina Pacis Surakarta, KB/TK Maria Assumpta Klaten, SD Maria Assumpta Klaten, dan SMP Assumpta Klaten, ikut serta dalam acara ini.

Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB. Para peserta berkumpul di Kampus Ursulin Solo – Klaten, lalu berangkat bersama-sama menggunakan bus menuju Danuwo Waterpark. Sesampainya di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB, acara dimulai dengan penuh semangat. Kegiatan outbound yang berkolaborasi dengan PT Werkudara Semangat Indonesia ini bertajuk “Building Growth Mindset Outbound Training”. Tujuannya adalah untuk belajar membangun semangat perubahan dan kerjasama sebagai peluang untuk berkembang dalam pelayanan sebagai staf administrasi di sekolah.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sesi energizer, yang dipimpin oleh master game untuk mencairkan suasana dan pembagian kelompok secara acak sebelum melaksanakan permainan pos masing-masing. Setelah sesi energizer dirasa cukup, peserta diarahkan untuk memulai petualangan dengan bantuan peta untuk menyelesaikan misi mendapatkan harta karun yang tersembunyi. Masing-masing kelompok mempunyai ketua kelompok sebagai penanggungjawab akan anggota kelompoknya. Permainan pos memiliki urutan yang berbeda pada tiap kelompok, dan di tiap pos permainan terdapat dua kelompok yang saling bersaing untuk mendapatkan kemenangan.

Adapun jenis permainan yang dilakukan dalam setiap pos adalah : bola meriam, peserta memindahkan bola ping-pong dan kelereng ke dalam keranjang menggunakan alas triplek secara estafet. Seru dan penuh tantangan! Lalu menabung lambung pipa, kelompok harus mengisi pipa berlubang dengan air hingga bola plastik bisa naik ke atas. Butuh kekompakan dan strategi!

Yang ke tiga adalah permainan membangun mercusuar, dengan menggunakan tali, peserta memindahkan dan menyusun balok kayu menjadi mercusuar. Komunikasi dan kerja sama sangat penting! Permainan di pos ke empat adalah pertahanan benteng, dua kelompok saling mempertahankan benteng dengan senjata tembak air. Menegangkan sekaligus menyenangkan! Kegiatan ini dilakukan di kolam renang besar yang ada di lokasi outbound

Permainan terakhir pada sesi ini adalah permainan misi, seluruh peserta harus bisa memutarkan baling-baling kayu dengan mengalirkan air menggunakan pipa bocor. Seluruh kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan misi ini. Kerjasama tim sangat menonjol dalam mencapai tujuan dalam menjalankan baling-baling yang ada dan menyelesaikan misi yang dimulai sejak pagi dengan menemukan kunci kotak harta karun.

Sebagai rangkuman seluruh aktifitas outbound, permainan bola menjadi proses untuk menemukan diri dan keberadaan diri dalam kerjasama kelompok. Aturan permainan sederhana namun cukup menantang.  Permainan ini dilaksanakan dalam tiga ronde, membutuhkan strategi dan komunikasi yang baik antar anggota kelompok. Sesudahnya, masing-masing peserta menuliskan kesan dan nilai apa yang diperoleh dalam kegiatan ini.  Sebagai penutup, Ketua Yayasan Winayabhakti Solo, Sr.Vero Sri Andayani, OSU menekankan pentingnya komunikasi, motivasi, kolaborasi, dan inovasi dalam setiap tugas. Agar peran dan keberadaan kita menjadi berkat bagi siapa saja yang kita layani di sekolah.

Monica Hapsari – Staf Yayasan Winayabhakti Solo

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten: mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Belajar sepanjang hayat adalah salah satu keutamaan dalam hidup di mana setiap individu dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka sepanjang kehidupan. Proses ini mencakup berbagai cara, mulai dari pendidikan formal di sekolah dan universitas, hingga pengalaman kerja, pelatihan profesional, dan pembelajaran mandiri. Dengan terus belajar, seseorang dapat tetap relevan dalam dunia kerja yang selalu berubah, meningkatkan kemampuan diri, serta mencapai potensi pribadi dan profesional yang maksimal. Selain itu, belajar sepanjang hayat juga membantu menjaga kesehatan mental, meningkatkan kualitas hidup, dan membuka peluang baru dalam berbagai aspek kehidupan.

Berkaitan dengan konsep belajar sepanjang hayat ini, pada hari Senin – Rabu, 24- 26 Juni 2024 Kampus Ursulin Regina Pacis Surakarta dan Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten memaknainya dalam pelatihan bersama selama 3 hari. Bertempat di Auditorium Kampus Ursulin Regina Pacis, guru SMP Maria Assumpta Klaten sejumlah 13 orang, SMP Regina Pacis sejumlah 29 orang serta SMA Regina Pacis sejumlah 53 orang dengan antusias ikut dalam kegiatan belajar bersama.

Tema kegiatan belajar bersama kali ini adalah pelatihan transformasi pembelajaran dengan generative AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan yang merupakan teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer yang mampu meniru kemampuan intelektual manusia.  Narasumber yang mendampingi dalam pelatihan ini adalalah para dosen dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yaitu Bapak FX. Risang Baskara, Bapak Andreas Erwin Prasetya dan Ibu Eni Winarti.

Kegiatan dibuka secara singkat oleh Ketua Yayasan Winayabhakti Solo, Suster Veronica Sri Andayani, OSU yang menekankan pentingnya agar tahun ajaran baru 2024-2025 dipersiapkan dengan pembelajaran yang semakin maju khususnya bagi peserta didik yang juga telah maju dalam penggunaan IT. Suster Vero mengharapkan agar semua guru yang mengikuti pelatihan ini dapat belajar dalam menggunakan berbagai aplikasi yang ditawarkan dalam pelatihan agar proses pembelajaran dapat bermanfaat di kemudian hari.

Senada dengan Suster Vero, Ibu Enny Winarti selaku perwakilan dari Universitas Sanata Dharma, juga menekankan betapa alat-alat sekarang semakin canggih dan peran guru ditantang untuk lebih maju dalam penggunaan teknologi. Jaman dulu guru adalah sumber segalanya, sumber belajar tapi sekarang tidak lagi. Guru mesti siap “kejar-kejaran” dengan teknologi dan guru fungsinya sebagai fasilitator.

Pada hari pertama, Bapak FX Risang Baskara dari Prodi Sastra Inggris, Fakultas Sastra mengajak peserta untuk pertama-tama menyadari bahwa dunia sekarang ini adalah kompetisi “berlari” dengan teknologi. Maka, seorang guru juga dituntut untuk menggunakan perkembangan teknologi dalam proses pembelajaran di sekolah maupun di dalam kelas. Dalam pemaparan materinya, Pak Risang mengajak seluruh peserta untuk mengeksplorasi Generative AI Tools untuk membuat sumber belajar digital.

Inti dari pengajaran Pak Risang, membuat peserta dari para guru untuk sadar bahwa ada alat-alat canggih yang bisa dipakai dan juga sadar bahwa alat ini bisa dipakai guru maupun siswa. Maka, dalam akhir pelatihan, para guru menggunakan berbagai aplikasi untuk menghasilkan materi bahan ajar yang menarik dalam bentuk power point, lagu, video maupun gambar yang menggunakan teknologi AI.

Pada hari kedua, sesi diisi sepenuhnya oleh Bapak Andreas Erwin Prasetya, dari Fakultas PGSD. Dalam pembelajaran hari kedua ini, peserta diperkenalkan dan sekaligus diajarkan cara penggunaan berbagai aplikasi interaktif seperti: neopad, canva, padlet, educaplay, edpuzzle, qreatif, thinglink, dll. Dalam pemaparannya Pak Andreas memperkenalkan salah satu aplikasi yang baik bila digunakan oleh para guru dalam pembelajaran, yaitu aplikasi neopad. Aplikasi neopad ini memiliki beberapa tujuan penting yang dapat bermanfaat dalam berbagai konteks, misalnya mampu meningkatkan produktivitas dalam proses pembelajran. Neopad menawarkan fitur-fitur yang membantu guru dalam mengelola tugas, catatan, dan informasi secara lebih efisien, sehingga meningkatkan produktivitas sehari-hari.

Pak Andreas menekankan bahwa pada intinya para guru boleh memilih berbagai penggunaan aplikasi, tidak hanya neopad, asal sesuai kebutuhan mata pelajaran yang diampu sehingga nantinya para guru juga dapat dibantu meningkatkan keterampilan digital, yang sangat penting dalam dunia pendidikan yang semakin ditantang dalam penggunaan teknologi.

Pada hari ketiga, peserta didampingi oleh Ibu Eni Winarti, M. Hum. Ph. D yang juga mewakili Kampus Sanata Dharma. Ibu Eni mengajak seluruh peserta mendalami materi tentang peningkatan Project Based Learning (PBL) melalui integrasi kecerdasan buatan. Dalam sesi ini, Ibu Eni mengajak peserta untuk pertama-tama menentukan sebuah tema pembelajaran lalu merancang sebuah alur proyek dalam pembelajaran dan kemudian mengintegrasikan tema pembelajaran ke dalam proyek tersebut.

Setelah peserta diberikan pengantar, kemudian dilanjutkan dalam diskusi di unit masing-masing dan pada akhir sesi setiap unit mempresentasikan hasil diskusi dan rancangan yang didapatkan secara bersama dalam proyek pembelajaran. Setiap unit baik SMP maupun SMA sangat menarik memaparkan presentasinya. Lalu tim narasumber memberikan feedback dari hasil presentasi itu. Ibu Eni menekankan bahwa apapun hasil proyek dari kelompok siswa baik itu dalam bentuk video maupun tulisan tidak masalah, yang penting para guru menemani para siswa untuk berproses dalam menemukan cara-cara belajar dan mencapai tujuan pembelajaran.  

Sedangkan Pak Risang dan Pak Andre memberikan masukan agar dalam proses pembelajaran, para siswa memahami persoalan-persoalan di sekitar mereka dan mampu mencari solusi atas persoalan atau masalah tersebut. Bukan guru yang menentukan persoalan atau masalah itu tapi siswa sendiri yang menemukan masalah di sekitar mereka dan memecahkan sendiri masalah mereka. Inilah proses pembelajaran kontekstual dari dalam diri siswa itu sendiri, sehingga setiap guru mesti menyadari bahwa saat ini yang menjadi pusat pembelajaran adalah siswa bukan lagi guru.

Demikian pula, yang punya projek, produk, solusi adalah siswa sendiri bukan guru. Guru hanya mendampingi dan menjadi agar proses pembelajaran terus terjadi. Selain itu, Pak Risang juga menekankan bahwa dalam proses pembelajaran, para siswa harus mengedepankan pola kolaborasi, artinya tidak terjadi individual projek. Di mana masing-masing mengerjakan tugasnya sendiri-sendiri tapi tidak ada makna kolaborasinya. Intinya, setiap guru perlu mengoptimalkan bakat yang ada pada anak, demikian ditegaskan oleh Pak Risang.

Pada akhir pelatihan, Suster Vero kembali memberikan peneguhan kepada seluruh peserta agar terus semangat dalam proses belajar bersama ini. Waktu 3 hari pembelajaran ternyata para guru terus semangat dengan wajah sukacita, yang menandakan para guru ingin selalu menjadi lebih baik dan terus berproses dengan tekun dan penuh semangat, demikian kata Suster Vero menutup seluruh rangkaian pelatihan transformasi pembelajaran dengan generative AI.

Elias Anwar (Guru Pendidikan Agama Katolik SMA Regina Pacis Surakarta)

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

Kampus Ursulin Maria Assumpta Klaten : mariaassumpta.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Pada hari Sabtu pagi yang cerah, ratusan warga komunitas Kampus Regina Pacis Surakarta berkumpul di Lapangan Sepak Bola untuk mengikuti acara senam bersama yang diadakan oleh Tim Pastoral Kampus Regina Pacis. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anggota komunitas Kampus yang terdiri atas para Suster, Guru dan Karyawan SMP dan SMA Regina Pacis akan pentingnya kesehatan dan kebugaran, serta mempererat tali persaudaraan antar guru dan karyawan.

Ada yang menarik dari kegiatan ini yaitu hadirnya pula suami/istri dari para guru dan karyawan yang sudah menikah. Kehadiran suami/istri ini memang sengaja diundang karena pada akhir acara ada kegiatan sharing pasangan suami-istri. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan sesi pemanasan yang dipimpin oleh instruktur senam profesional. Peserta, yang terdiri dari para suster dan guru-karyawan beserta suami istri, tampak antusias mengikuti gerakan demi gerakan yang diiringi musik energik.

 Setelah selesai senam, acara dilanjutkan dengan makan soto bersama yang sudah disiapkan oleh panitia. Meja-meja panjang berjejer rapi, dipenuhi mangkuk soto panas, dengan gorengan tempe dan tahu yang siap dinikmati. Aroma soto yang menggugah selera menambah semangat peserta untuk bersantap bersama.

Salah satu peserta, Ibu Sisca (50), salah seorang istri dari guru SMA Regina Pacis mengungkapkan kegembiraannya mengikuti acara ini. “Senam bersama seperti ini sangat menyenangkan. Selain membuat tubuh lebih sehat, saya juga bisa bertemu dan berinteraksi dengan Suster, Guru dan Karyawan Kampus Regina Pacis yang jarang saya temui. Dan makan soto bersama setelah senam benar-benar menambah kehangatan acara,” katanya.

Acara makan soto bersama ini tidak hanya menjadi momen untuk mengisi energi kembali setelah berolahraga, tetapi juga menjadi ajang untuk saling berbagi cerita dan pengalaman antaranggota Komunitas Kampus Regina Pacis. Tawa dan canda menghiasi suasana, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang erat.

Bagian terakhir dari acara ini adalah sesi sharing pasutri, yang dimulai sekitar pukul 09.15 WIB. Suster Veronica Sri Andayani, OSU selaku Koordinator Kampus membuka acara sharing pasutri dengan menekankan pentingnya komunikasi dalam hubungan suami – istri. Kebahagiaan suami-istri juga akan berdampak dalam keluarga dan di sekolah, demikian ditekankan oleh Suster Vero yang memunculkan ide sehingga kegiatan senam, soto dan sharing bersama dapat terselenggara di Kampus Regina Pacis.

Dalam acara sesi sharing, Pasangan suami istri diberikan kesempatan untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok dan diberikan games tebak kata. Dipandu oleh Tim Pastoral, sesi ini berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh dinamika yang menyenangkan.Pak Bambang dan istrinya, Ibu Yuni, yang kebetulan merayakan ulang tahun perkawinan yang ke-27 mengungkapkan manfaat dari sesi ini. Pasutri ini sharing tentang perjuangan tahun-tahun awal pernikahan pada saat memiliki anak.

 Pak Bambang harus bolak-balik Solo-Pacitan selama 7 bulan. Mereka merasa karya Tuhan begitu besar dalam hidup keluarga mereka. Walaupun merasa kurang romantis tapi cinta mereka sebagai pasangan suami istri tetap terus dijaga dan setia satu sama lain. Selain itu, beberapa pasutri juga melakukan sharing pengalaman pasangan lain dan berbagi tips dalam komunikasi di antara suami istri.

Acara 3 S (Senam, Soto, Sharing) ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk hadirnya suami-istri guru dan karyawan yang turut mendukung dan berpartisipasi. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan emosional dan hubungan interpersonal, khususnya bagi pasangan suami istri.

Pada pukul 11.30 WIB, Sr. Maria Theofila, OSU menutup seluruh rangkaian acara dengan menekan pentingnya komunikasi di antara pasangan suami-istri. “Dinamika dalam games sudah memberikan kita pelajaran bersama untuk terus meningkatkan komunikasi diantara suami-istri”, demikian ditekankan oleh Suster Fila. Memang komunikasi itu membutuhkan waktu, maka setiap pasangan suami istri selalu sabar dan tetap setia satu sama lain agar keharmonisan keluarga terus terjaga, kata Suster Fila menutup kegiatan 3 S ini.

Dengan berakhirnya acara pada pukul 11.30 WIB, peserta pulang dengan senyum puas dan semangat baru karena mengalamai sukacita bersama yang menyenangkan dan penuh kekeluargaan.

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo: smp-reginapacis-slo.sch.id/ dan smareginapacis-solo.sch.id/

SOLO, SERVIAMNEWS.com – Dunia yang semakin berkembang mendorong setiap individu untuk mengelola keuangan secara bijaksana. Salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan ekonomi adalah dengan melakukan investasi. Pada Selasa, 18 Juni 2024 Yayasan Winayabhakti Solo bekerjasama dengan Syailendra Capital memberikan edukasi tentang instrumen investasi masa kini pada Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Tenaga Penunjang SMP Regina Pacis dan SMA Regina Pacis Surakarta. Kegiatan bertema “Beyond the Classroom: Building a Roadmap to Create Wealth” ini bertujuan memberikan edukasi tentang literasi keuangan, terkhusus pengetahuan tentang mekanisme dalam berinvestasi dan teknik melakukan analisis resiko serta keuntungannya.

Pada sesi awal, tim Syailendra Capital menyampaikan materi tentang instrumen investasi tradisional dan modern. Contoh investasi tradisional adalah properti, emas dan deposito, sedangkan investasi modern seperti saham, obligasi, reksa dana, cripto, dan P2P lending. Seiring berjalannya waktu, investasi semakin berkembang, bahkan yang dahulu memerlukan kehadiran fisik dan proses manual, sekarang bisa diakses secara online dengan menggunakan dokumen digital. Hal ini juga harus menjadi perhatian bagi pemula yang ingin berinvestasi, sebab adanya kecanggihan teknologi bisa dimanfaatkan oleh pelaku investasi bodong. Mereka menjalankan modusnya dengan cara mengiming-imingi return yang tinggi. Maka, sangat penting perlunya edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan keuangan dan jenis produk investasi yang legal.

Tim Syailendra Capital juga menjelaskan di Indonesia lebih cenderung pada inklusi keuangan daripada literasi keuangan. Maksudnya adalah masyarakat mengetahui tentang bagaimana pengelolaan keuangan yang baik, misalkan mereka telah melakukan pembukaan rekening  tabungan di bank, namun tidak berani mengambil keputusan untuk berinvestasi. Padahal  faktanya, apabila uang di tabung pada bank, akan terpotong oleh biaya admin dan pajak sedangkan bunganya relatif kecil, sehingga dimungkinkan uang di tabungan dapat tergerus oleh biaya-biaya tersebut. Selain itu, nilai uang dipengaruhi oleh laju inflasi, yang menyebabkan nilai mata uang semakin melemah.

Investasi menjadi solusi untuk “menggandakan” uang kita di masa depan. Dalam melakukan investasi, kita harus memperhatikan pendapatan dan pengeluaran. Bukan berarti seluruh pendapatan dialokasikan pada instrumen investasi. Hidup harus seimbang, sehingga kebutuhan, hiburan, investasi sebaiknya mempunyai porsi masing-masing. Salah satu gambaran alokasi pendapatan yang disampaikan oleh tim Syailendra Capital adalah 50% untuk kebutuhan pokok, 30% hiburan dan 20% investasi. Balancing (budgeting) your money is key to having enough (Elizabeth Warren, US Senator).

Umur pensiun rata-rata adalah 55 tahun, sedangkan angka harapan hidup di Indonesia sekitar 75-78 tahun. Selama kurun waktu 20 – 23 tahun tersebut, seorang pensiunan diharapkan dapat memenuhi semua kebutuhannya, hidup layak dan sejahtera. Supaya tidak ada kekhawatiran di hari tua, maka rencana keuangan perlu disiapkan dari awal. Pada sesi terakhir Syailendra Capital memperkenalkan salah satu instrumen investasi, yaitu reksa dana. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari investor yang selanjutnya diinvestasikan pada portofolio efek oleh manajer investasi. Reksa dana sangat cocok bagi investor pemula, karena resikonya sangat kecil dan menawarkan diversifikasi produk tanpa harus mengetahui secara mendalam tentang pergerakan pasar.

Syailendra Capital juga memperkenalkan aplikasi perusahaannya yang bernama “Yo Inves”, aplikasi khusus untuk investasi reksa dana. Kegiatan ini ditutup dengan beberapa pertanyaan dari peserta seminar. Melihat begitu semangatnya bapak ibu guru dan karyawan dalam mengikuti seminar investasi, diharapkan dengan kegiatan ini semakin menambah wawasan tentang pengelolaan keuangan yang bijak, memahami dan mendalami dunia investasi, serta dapat mengambil keputusan investasi yang tepat.

Stefany Apriliana Nugroho – Guru Ekonomi SMA Regina Pacis Surakarta

Kampus Ursulin Regina Pacis Solo : https://smareginapacis-solo.sch.id/ dan https://smp-reginapacis-slo.sch.id/

Follow by Email
Instagram
Copy link
URL has been copied successfully!